v a n i a ~
FF / B.I - WINNER / YOU / One Shot
Rabu, 29 Juli 2015 • 09.18 • 0 comments


Author   : N.R
Rate      : PG-15
Genre    : Fantasy, romance
Cast       
·         Jisoo as you
·         Hanbin (B.I Ikon)
·         Jessica SNSD as Jisoo’s sister
·         Mark (Got7)
·         Jinhwan (Ikon)
·         Bobby (Ikon)
·         Yerin (15&)
·         Kang Saeron
·         Krystal (f(x))


-Flashback-
Terlihat raut kebahagiaan dari dua orang anak kecil yang tengah bermain di sebuah taman, namun kedua anak lugu itu tak mengetahui bahwa hal yang tak terduga akan terjadi, hari itu adalah pertemuan terakhir mereka
“Jisoo-ya” Teriak wanita paruh baya.
“Ne eomma” balas Jisoo lantang
“Ayo sekarang kita pulang, kapan-kapan kita kesini lagi” ucap ibu Jisoo tersenyum hangat ke arah Jisoo
Mata besar Jisoo menatap Hanbin, ia melengkungkan bibir mungilnya.
“Hanbin-ah maaf, sekarang aku harus pulang” Tutur Jisoo, suara lucunya berucap dengan lembut seakan tak ingin mengecewakan sahabat dekatnya itu. Jisoo langsung berlari meninggalkan Hanbin.
“Jisoo-ya!” Teriak Hanbin, ia mengejar mobil Jisoo dan mengetuk keras kaca mobil yang sedang melaju itu.
Dengan raut wajah khawatir Jisoo dengan cepat membuka kaca hitam itu dan menatap Hanbin bingung.
“Berjanjilah padaku bahwa kita akan selalu bersama” Hanbin mengangkat jari kelingking mungilnya yang diikuti oleh Jisoo.
“Ne” Mereka berdua saling menautkan jari kelingking.
“Selamanya?” Tanya Hanbin.
“Ne selamanya” Balas Jisoo.
Hanbin terus menatap mobil putih yang sedang melaju itu hingga tak terlihat lagi.

...

Jisoo dan ibunya menikmati perjalanan pulang mereka, musik yang terdengar dari dashboard mobil membuat hati Jisoo lebih tenang, sesekali Jisoo mengikuti lirik lagu itu dan menggerakan kepalanya mengikuti alunan musik ballad yang dari dulu sering ibu Jisoo putar.
“Eomma” Panggil Jisoo menolehkan kepalanya.
“Hmm wae?”
“Kapan kita akan pergi ke rumah Hanbin lagi?” Tanya Jisoo, dalam matanya masih terpancar kesedihan , ia masih belum puas bermain bersama Hanbin dan sekarang ia merindukan Hanbin. Tiba-tiba pikiran tentang Hanbin menghilang begitu saja ketika Jisoo melihat gerombolan tanah dengan cepat jatuh ke arah mobil mereka. Jisoo berteriak keras memanggil ibunya, penglihatan yang samar-samar karena malam hari membuat ibu Jisoo bingung kemana harus mengarahkan stir mobil itu.
“JISOO-YA!!!” Terdengar teriakan panjang dari ibu Jisoo, Jisoo meresa badannya terhimpit, ternyata ibu Jisoo sedang memeluk anaknya itu sangat erat. Ia harus melindungi anaknya apapun yang terjadi, bukankah itu tugas orang tua batin ibu Jisoo.

-12 Years Later-
Happy birthday to you,
happy birthday to you, 

happy birthday to Hanbin,
happy birthday to you.

Hari ini Hanbin genap 18 tahun, senyum tak pudar dari wajahnya ditambah alunan lagu dari teman-temannya membuat ia lebih bersyukur.
“Baiklah saat ini Hanbin akan meniup lilin tapi sebelum itu buatlah permohonan terlebih dahulu” Ucap seorang mc pesta.
Hanbin menghembuskan nafasnya halus dan tersenyum tipis, ia segera menautkan jemarinya menutup mata dan membuat sebuah permohonan.
“Aku ingin bertemu dengannya” Gumamnya dalam hati.

-Jisoo POV-
“APA!!?” Pekikku saat beberapa angel datang menemuiku. Ya iyalah bagaimana aku tidak kaget Raja memanggilku. Apa aku membuat kesalahan? Ku rasa tidak, tapi kenapa si tua besar itu memanggilku?! Aish pikiran yang tidak-tidak mulai menggelayuti pikiranku. Dengan berat hati aku menemui Raja.
“Jisoo Angel” Kata Raja saat aku tepat berdiri di hadapannya.
“Kau mengalami kecelakaan 10 tahun yang lalu dan merubahmu menjadi seorang angel seperti ini” Ucap Raja dengan suara beratnya.
“Mulai hari ini kau akan kuberi kesempatan untuk turun ke bumi dan kembali menjadi manusia”
Apa kalimat yang baru saja ku dengar adalah perintah dari Raja? Sekarang tubuhku benar-benar mematung, sepertinya nafasku berhenti mataku membesar menatap Raja.
“Ma-ma-manusia?” Sial, saking kagetnya suaraku susah keluar. Aku berucap untuk memastikan yang barusan ku dengar adalah benar.
“Tapi, saat kau menjadi manusia maka ingatanmu mengenai angel akan terhapus”

-Author POV-
Meja makan telah tersaji dua buah sandwich dan dua buah orange jus segar yang siap disantap.
“Sesudah pulang kerja unnie akan menemanimu” Ujar Jessica kemudian menggigit sandwich yang ia pegang. [Jessica adalah malaikat seperti Jisoo, tapi ia bertugas menjadi malaikat penjaga di bumi dengan wujud manusia]
“Unnie akan menemaniku kemana?” Tanya Jisoo.
“Jangan bilang unnie akan menemaniku berbelanja kebutuhan sekolahku” Jisoo mulai menebak-nebak.
“Memangnya kenapa?” Heran Jessica.
“Sudah ku duga” Jisoo mengunyah sandwich yang baru saja ia gigit. Pipinya penuh hingga sedikit kesulitan untuk mengunyah.
“Tidak, biar aku&%$#@ saja *&@%^%$^&*”
Jessika menautkan kedua alisnya, tak tahu apa yang sebenarnya adik angkatnya itu katakan.
“Kunyah dulu makananmu..” Jessica hanya tersenyum geli.
Jisoo mengunyah makanannya dengan cepat, menelannya membuat rongga mulutnya agak mendingan.
“Pokoknya jangan menemaniku, aku bisa pergi sendiri lagi pula aku sudah besar unnie.” Jessica mengerti, ia mengaku bahwa ia terlalu overprotective pada adiknya itu. Jessica mengangguk diakhiri pelukan Jisoo yang membuat Jessica selalu nyaman.

-Jessica POV | Flashback-
Jessica menemui raja yang sedang turun ke bumi dengan seorang wanita yang tak sadarkan diri.
“Dia adalah Kim Jisoo, seseorang telah memanggilnya” Gumam Raja. Ini adalah pertama kalinya seorang angel turun ke bumi karena panggilan seseorang.
“Aku tahu kau pasti bertanya-tanya kenapa bisa seorang angel turun ke bumi dan menjadi manusia hanya karena seseorang di bumi memanggilnya” Raja mengetahui apa yang aku pikirkan.
“Orang itu dan Jisoo angel telah membuat janji saat mereka masih kecil dan janji itulah yang membuat Jisoo angel menjadi manusia dan turun ke bumi” Sambung Raja.
Ternyata karena itu, batinku.
“Lalu bagaimana Jisoo angel bisa menemukan orang yang memanggilnya?” Aku bertanya penasaran.
“Berikan ini padanya saat waktunya sudah tiba” Raja tak menjawab pertanyaanku dan malah memberikan aku sebuah kalung dengan buah gajah hitam kecil yang terlihat sangat simple namun elegan
“Tapi” Tegas Raja.
“Jika orang yang memanggilnya masih ingin di sisinya maka Jisoo angel akan menjadi manusia selamanya dan kau Jessica angel akan menyudahi tugasmu dan akan menjadi manusia selamanya.” Seketika perasaanku senang ketika mendengar kata manusia.
“Tapi sebaliknya..” Perasaanku mulai tak enak.
“Jika orang yang memanggil Jisoo angel sudah tak ingin berada di sisinya atau membencinya maka Jisoo juga kau harus kembali menjadi angel selamanya” Aku menghembuskan nafas kasar, aku tahu ini akan terjadi.
-Flashback end-
“Tapi sebaliknya, Jika orang yang memanggil Jisoo angel sudah tak ingin berada di sisinya atau membencinya maka Jisoo juga kau harus kembali menjadi angel selamanya.”
Aku tak henti-hentinya memikirkan perkataan Raja tadi, aku seperti kehilangan semangat, merasa tak akan berhasil dengan kemampuanku sendiri. Menjadi manusia adalah keinginanku dari dulu, tidak mungkin itu adalah keingininan semua angel. Tapi jika dipikir-pikir pasti akan berhasil toh Jisoo dan orang yang memanggilnya adalah teman dari kecil, menurut drama yang sering aku tonton besar kemungkinan jika teman masa kecil terpisah akan berakhir dengan happy ending. Aku terkekeh kecil menyadari pikiranku yang seperti anak kecil. Tak masalah jika berharap, bukan?.

-Jisoo POV-
Aku tersenyum-senyum tak jelas di ruangan sempit ini, melihat pantulan tubuhku di kaca persegi panjang di hadapanku. Baju seragam sekolah yang aku aku idam-idamkan terbalut sempurna di tubuh rampingku dengan rambut panjang yang kubiarkan terurai. Aku segera bergegas keluar ruang sempit itu.
#BRUKK!
Kepalaku bergerak kesana-kemari mencari sumber suara keras itu. Aku menggigit bibir bawahku ketika melihat pria yang sedang meringis kesakitan, aku lebih panik ketika menyadari bahwa pria itu kesakitan karena ulahku, kepalanya terbentur saat aku membuka pintu. Tunggu dulu setelah dipikir-pikir kenapa juga pria itu berdiri di depan pintu, Aihh lupakan yang harus aku lakukan sekarang adalah menghampiri pria itu.
“Kau tak apa-apa?” Ucapku sopan.

-B.I POV-
Sudah 20 menit aku berdiri menunggu orang yang ada di dalam keluar, aku mondar-mandir hanya untuk menghilangkan pegal di kakiku, apa ruang gantinya hanya satu disini? Aku mulai frustasi, aku ingin menyandarkan kepalaku di depan pintu hanya untuk mengurangi rasa lelahku saja tapi tiba-tiba seseorang dari dalam membuka pintu itu dengan cepat, bukan rasa lelah yang hilang, kini rasa sakit pun mulai kurasakan. Aku meringis kesakitan sambil mengusap kasar kepalaku.
“Kau tak apa-apa?” Seseorang menggangu aktivitasku, aku tahu ia adalah pelakunya. Jika ia seorang pria pasti sudah ku maki mungkin sedikit menghajarnya, tapi sayang ia seorang wanita pantasan lama sekali.
“Ahh Iya..” Jawabku bohong.
“Mian aku tidak tahu kalau ada orang di luar, itu pasti sakit ya kan?” Sambung wanita itu.
“TIDAK!” Geramku.
“Lagian aku yang rasa bukan kau” Tambahku kesal, well aku tahu ini hanya masalah sepele tapi wanita di depanku ini sangat sok tahu ditambah aku ini pria, pria sejati tak boleh lemah.

-Author POV-
Hari yang di tunggu-tunggu Jisoo untuk jadi populer pun tiba. Dengan senyum manis mengembang Jisoo keluar dari mobil. Ini adalah hari pertamanya masuk sekolah sejak Jisoo menjadi manusia.
“Kau akan mengalami banyak keajaiban”Tutur Jessica setelah Jisoo turun dari mobil dan langsung melaju.

-Jisoo POV-
“Pelajaran hari ini akan di lanjutkan minggu depan” Huft, akhirnya Park sem keluar juga, jujur saja semua yang di ajarkan Park sem tak dapat ku mengerti, mungkin karena ini hari pertamaku.
“Hai, namaku Kang Saeron” Tiba-tiba seseorang di sampingku mengajakku berkenalan, ia langsung menyebutkan nama dan mengulurkan tangannya, aku pun dengan senang hati langsung membalas uluran tangannya.
“Aku Jisoo” Aku tersenyum ramah ke arahnya.
“Apakah sekarang kita berteman?” Tanyaku lugu, aku terus menatap Saeron, aku menyukai rambutnya, rambut bergelombang yang ia ikat dengan pita pink kecil.
“Hahaha! kau lucu” Saeron tertawa, matanya melengkung membentuk bulan sabit lucu.
“Tentu saja” Tambah Saeron.
Hari ini adalah hari pertamaku duduk di bangku kelas dua SMA di Korea setelah pindah dari Los Angles dan hari ini juga adalah hari pertamaku mendapatkan teman. Aku bahkan tidak ingat masa-masa sekolahku dulu dan aku lupa siapa saja teman-temanku waktu di Los Angles. Mencoba mengingat itu semua hanya membuat kepalaku pusing.
Saeron mengajak ku ke kantin, kebetulan hari ini aku sangat lapar. Di meja telah tersedia beberapa makanan seperti tteokbokki, salad, susu orange.
“Selamat makan” Ucap kami bersama, saat hendak mau makan ujung mataku menangkap hal menarik di mulut pintu kantin. Wajah itu sepertinya tak asing, bingo! bukankah itu pria yang waktu itu kepalanya terbentur pintu? Selera makanku perlahan menghilang.
“Kau kenapa?” Saeron menatapku bingung.
“Ah tidak, aku hanya sedikit kaget melihat orang itu.” Aku melanjutkan aktifitas tertundaku.
“Yang mana?” Saeron mulai penasaran, aku langsung menunjuk orang yang ku maksud.
“Aigoo gak usah pake nunjuk segala kali.”
“Wae?” Aku bertanya,  Saeron aneh tadi dia menyuruhku untuk menunjukan orang yang membuatku kaget tadi sekarang ia malah mengomeli ku. Bukankah dengan menunjuk kau bisa dengan mudah melihat orang yamg ku maksud.
“Aww!” Satu jitakan mendarat di pelipisku, aku merengek halus.
“Lihat!! Sekarang mereka melihat ke arah kita” Pekik Saeron lalu menarikku pergi dari tempat itu. Saeron menarik ku keluar dari kantin tapi kini ia malah meninggalkanku, katanya ia ke toilet tapi tak juga kembali. Aku memutuskan untuk pergi ke perpustakaan sekolah karena ku pikir Saeron pasti sudah berada di tempat lain.

---
“Kenapa dari semua buku yang aku ambil tidak ada gambarnya sih?” Setiba di perpustakaan aku langsung mengambil asal buku-buku yang tertata rapi itu, sedikit kesal karena isinya hanya penuh dengan tulisan aku ingin buku yang bergambar. Aku menaru kasar buku tebal itu di tempatnya semula.
“Ini buku pelajaran, bukan buku  dongeng.” Seseorang membalas perkataanku. Aku mengernyitkan dahiku. Kenapa pria itu selalu berada di dekatku?.
“Kau pria yang terbentur tadikan? Kenapa kau di sini?”
“YA!! Bisakah kau tak mengungkit hal itu?”
“Mengungkit apa?” Aku bertanya, orang ini juga aneh. Kenapa dia marah?
“Ohyah kenapa waktu di kantin kau menunjuk ke arahku?”
“Aku hanya tak menyangka kau akan satu sekolah dengan ku.”
“Lain kali jangan berisik kau bisa mengganggu orang lain” Katanya tersenyum. Dia pria yang aneh, setelah berkata seperti itu ia malah pergi.”
-Hanbin POV-
“Ya! Dari mana saja kau?” Seru Bobby saat aku baru saja tiba.
“Aku dari—“ Perkataanku terpotong.
“Aku lupa menanyakan namanya” Ucap ku tak sadar. Aku memukul pelan kepalaku karena tak ingat hal yang dari tadi menjadi alasan ku menghampirinya di perpustakaan. Aku memang bodoh”
“Nama siapa?” Tiba-tiba Jinhwan membuyarkan lamunanku. Ia bertanya dengan sangat penasaran. Sebenarnya saat ingatan itu datang aku ingin kembali ke tempat wanita itu, tapi sangat disayangkan Lee sem yang dijuluki sem yang paling tepat waktu itu sudah datang.
-Jisoo POV-
“Lucu. Kenapa aku bisa kemari?” Aku berkata dalam hati. Aku mengikuti kakiku yang membawa ku sampai atap sekolah. Kota Seoul terlihat sangat kecil dari atas sini. Rambutku berterbangan kemana-mana karena angin berhembus sangat kuat, tapi aku menyukainya. Aku mulai suka berada di atap sekolah, sangat tenang dan nyaman. Aku mencoba naik ke pijakan yang lebih tinggi, aku ingin menemukan rumah ku dari atas sini.
“Kyaaa!!!” Cerobohnya aku, kakiku tergelincir mungkin karena badanku yang terlalu berat padahal aku sangat rajin berolahraga. Mulutku refleks berteriak saat keras, tubuhku mulai tak stabil dan aku sangat yakin pasti setelah itu aku akan merasakan sakit seluruh bagian tubuhku dan aku hanya pasrah.
“Aku jatuhkan? Kenapa tidak sakit” Aku berbicara dalam hati heran. Aku mencoba membuka mataku perlahan.
“Kau!!?” Aku berteriak dalam hati.
“Kau bisa saja terbang tadi bukan jatuh” Ia berkata sambil melepaskan tubuhku.
“Gomawo...” Aku tersenyum kecil.
“Simpan saja rasa terima kasihmu” Balasnya dingin. Saat ini suasana menjadi canggung. Mulut ku terasa beku, sulit untuk bicara. Kami terdiam sejenak.
“Kenapa kau sendirian? Dimana temanmu?” Untungnya ia membuka pembicaraan, sementara dapat mengusir rasa canggung yang kapan saja bisa kembali.
“Entalah, tiba-tiba saja aku ingin kemari.”
“Kau sendiri?” Sambungku.
“Mungkin aku ditakdirkan untuk menolongmu” Aku mengerutkan dahi, tak mengerti dengan perkatannya barusan. Namun aku berani menatapnya, sangat aneh, ia menatapku sangat dalam.
---
Aku di beritahukan oleh Saeron bahwa seongsaenim besar memanggil ku. Saat aku tiba di ruangannya ku pikir aku melakukan sebuah kesalahan sehingga aku di panggil. Tidak tahu seongsaenim besar memanggil ku hanya untuk memberikan aku beberapa seragam sekolah.
"Kenapa kau di panggil?"  Tanya saeron saat melihat ku kembali ke kelas.
"Hanya memberikan ini" Kata ku sambil menunjukan barang bukti.
 "Aku kira apa" Saeron tertawa.
Di kantin.  Aku senang menunggu Saeron yang entah kapan selesai mengambil makanannya. Sambil menunggu aku melihat sekeliling tepatnya orang-orang yang ada di kantin ini. Kali ini ada dua sosok wanita yang menjadi topik pandangan ku. Saeron yang tidak tahu kapan dan dari mana ia datang berhasil membuatku kaget bukan main.
"Hayo... Apa yang kau lihat kali ini?" Sambung Saeron.
"Wanita itu siapa?" Tanya ku memberikan sebuah kode mata agar Saeron tahu orang yang ku maksud.
"Siapa?" Saeron masih coba mencari kemana arah mata ku.
"Ahh mereka, yang memakai bandau itu adalah krystal sedangkan yang di sampingnya itu adalah Kim Yerin" Ujar Saeron pada ku.
"Mereka berdua adalah yeoja yang paling populer di sini"
"Dan mereka akan membuat perhitungan pada siapa pun yang berani mendekati B.I"
 "Makanya waktu itu saat kau menunjuk B.I aku langsung menarik mu karena aku tak mau kau punya masalah dengan ke dua wanita itu" Kata Saeron panjang lebar. B.I? Oh jadi namanya B.I ,batin ku.
-Author Pov-
Krystal tampak kesal karena orang yang tengah dia cari tidak menampakan diri.
"Dimana B.I?"
"Di kantin,perpus ,dan di lapangan tidak ada" saking kesalnya krystal bicara tanpa titik koma pada teman-teman B.I yang ada di kelas.
"Kau pikir kami ini orang tuanya?" Balas bobby berhasil membuat krystal tambah kesal.
"Aigoo orang itu" gerutu krystal dalam hati.
Jisoo kembali lagi ke atap sekolah tapi kali ini adalah kemauannya sendiri. "Sepertinya kau tidak takut jatuh" kata seseorang.

-Hanbin Pov-
-FlashBack-
Aku tak sengaja melihat melihat wanita itu lagi sedang berjalan tak kenal arah.
"Mau kemana dia?" Aku bertanya-tanya dalam hati dan memutuskan untuk mengikutinya
-Flash Back end-
"Sepertinya kau tidak takut jatuh" Kataku, aku mulai membuat tubuhku sejajar dengan posisinya.
"Kau suka tempat ini?" Tanya ku tapi malah di acuhkan wanita itu.
"Kenapa kau bersikap dingin pada ku?" Heran ku.
"Apakah kita berteman?" Balasnya polos .Aku tidak terkejut sama sekali dengan perkataannya tadi malahan aku tertawa.
"Ada yang lucu?" Dia mulai binggung.
"Ne,kau itu lucu sekali" kataku masih tertawa.
"Aku?" Gumamnya sambil menunjuk dirinya. "Hemmp" iya ku.
 "Kau menayanakan apakah kita berteman."
"Bisakah aku bertanya padamu sekarang?" Sambungku kali ini menatapnya sangat dalam.
"Apakah sekarang kita berteman?" Sambungku.
 -Flash Back-
Angin di atap sekolah hari ini menjadi saksi dua insan yang tengah berdiri berhadapan sambil menatap dalam satu sama lain.
"Apakah sekarang kita berteman?" Tanya B.I serius.
"Tidak" Jawab jisoo spontan. B.I tampak biasa saat jisoo berkata ‘tidak’ tapi hati B.I berkata lain. B.I terlihat kesal bahkan terbayang dengan jawaban jisoo tadi. Bobby dan Jinhwan binggung melihat tingkah temannya saat ini.
"Gwaenchana?" Tanya Bobby.
"Kau pikir aku baik-baik saja" Balas hanbin kesal dan itu membuat Bobby dan Jinhwan binggung. Sebenarnya ada apa dengannya (B.I)?.
---
Malam ini jessica telah menyediakan makan malam kesukaan Jisoo. Seperti biasa, Jisoo selalu makan dengan lahap tanpa sisa.
"Bagaimana sekolah mu?" Jessica membuka pembicaraan.
"Biasa aja" Balas Jisoo ringan.
"Apa kau memiliki banyak teman di sekolah?"
"Apa semua teman mu disana baik-baik?"
"Siapa yeoja dan namja paling terkenal?"
"Apa kau terkenal di sekolah?" Jessica memberikan pertanyaan bertubi-tubinya. Jisoo hanya tertawa melihat tingkah kakaknya yang super duper kepo.
"Unnie" panggil Jisoo. Jessica terlihat diam sehingga ia tidak memberikan pertanyaan yang masih ingin ia tanyakan pada adiknya itu. Lalu jessica melirik adik kesayangannya itu.
"Apakah Unnie tengah menginterogasi adik mu yang imut ini?"Canda Jisoo tersenyum. Mendengar adiknya berkata seperti itu, jessica tersenyum malu karena ia baru menyadari jika ia terlalu banyak bertanya.
"Maafkan unniemu ini" Senyun Jessica.
"Gwaenchana" Jisoo membalas senyuman Jessica dengan senyum termanisnya.
"Unnie bisakah lain kali aku mengajak teman ku ke rumah?"
"Kenapa kau menanyakan hal bodoh seperti itu? Tentu saja bisa! Kenapa juga unnie harus melarang mu" Tukas jessica tersenyum. Makan malam hari itu hanya berjalan seperti biasa. Jisoo selalu berhasil membuat kakaknya tersenyum.
1 year later.
Tidak terasa Jisoo angel telah melewati 1 tahun di bumi dan jessica telah menjadi kakak yang baik untuk adiknya. Selama Jisoo di sekolah ia cukup mencuri perhatian khusus para siswa laki-laki di sekolah.
"Aigoo kau tumbuh dengan cepati" kata jessica bahagia melihat adiknya sudah duduk di banguku kelas 12.
"Ini juga berkat bekal makanan enak yang selalu unnie buatkan untuk ku" Ujar Jisoo. Jessica hanya tersenyum
Jisoo dan Saeron sedang melihat nama mereka di ruangan guru.
"Kau di kelas 12-2" Sahut Jisoo pada Saeron.
"Gwaenchana lagian kelas kita hanya bersebelahan" Sambung saeron merangkul bahu Jisoo.
 "Aku tak menyangka kita tidak satu kelas" Ujar  jisoo lagi, ia terlihat patah semangat, satu tahun lebih persahabatan mereka membuat Jisoo merasa nyaman berada di dekat Saeron, tapi Saeron tetap menyakinkan Jisoo bahwa mereka berdua akan baik-baik saja. *emangnya kalian berpisah jauh? Hanya bersebelahan. Jisoo 12-1,Saeron 12-2. Lol*
-Jisoo Pov-
Banyak yang berubah di kelas ku sekarang. Dari ruangan, teman-teman dan tentunya tanpa Saeron. Aku memilih duduk di belakang samping jendela dan kursi di sebelah ku belum ada orang yang menempatinya.
"Ku harap saeron disini" Mohon ku yang tahu jika itu tak akan pernah terkabul. Mata ku tak sengaja melihat sosok yang aku kenal tengah berdiri di depan kelas bersama teman-temannya. Saat ia memasuki kelas mata kami saling bertemu. Aku merasa pernah melihat tatapan itu sebelumnya
"Tatapan itu" ujar ku dalam hati.
-Author Pov-
Setelah habis mengobrol dengan temannya, B.I langsung masuk kedalam kelas. Ia mendapati jisoo tengah melihatnya dari belakang. B.I menghampiri jisoo dan langsung tersenyum.
 "Wae?" tanya jisoo heran karena B.I datang-datang langsung tersenyum tak jelas ke arahnya.
"Seharusnya aku yang bertanya begitu."
"Kenapa dengan mu?" Sambung B.I tersenyum.
"Aku kenapa?"Jisoo tambah binggung. B.I duduk di kursi kosong itu lalu menatap Jisoo.
"Haruskah aku bilang kenapa?" Tanya B.I menaikan alis kanannya. Jisoo masih menatap b.i.
"Mengapa kau tadi melihat ku sangat lama?" B.i melihat Jisoo seolah-olah ia adalah seorang penjahat.
"Kau juga melihat ku sangat lama tadi" balas jisoo.
"Aku begitu karena kau duluan" B.i agak kesal dengan jawaban jisoo.
"Aku begitu juga karena aku kaget" Jelas Jisoo. B.i pun binggung kenapa jisoo kaget.
"Kaget?" Binggung B.i lalu berpikir sejenak. "Ah.. aku tau"senyum B.i.
"Tau apa?" Jisoo mengerutkan kedua alisnya.
"Karena aku satu kelas dengan mu" Kata B.i terlalu percaya diri.
"Huh?" Jisoo tampak bingung.
"Kau juga pasti senang karena aku bukan hanya satu kelas tapi satu tempat duduk dengan mu Iyakan?" B.I hanya bisa tersenyum. Jisoo sama sekali tidak mengerti mengapa B.i bisa berbicara seperti itu. Saat Jisoo hendak membalas perkataan B.I, B.I malah tidak memberikan kesempatan padanya.
"Aku sangat ingat kata-kata mu dulu ‘apakah kita berteman’" Ucap B.I. Jisoo langsung teringat kejadian beberapa tahun yang lalu yang hampir merenggut nyawanya.
"Aku ingin menanyakan itu sekarang" Iris tajam B.I menatap dalam mata bening Jisoo.
"Apakah kita sudah berteman sekarang?" B.I Bertanya lagi. Dengan cepat Jisoo menepuk jidat B.I tanpa izin dulu pada pemilik jidat tersebut. B.I hanya terlonjak kecil.
“Sebelum aku menjawab pertanyaan mu barusan aku ingin mengatakan sesuatu" Gumam jisoo.
"Pertama aku tak peduli kau di tempatkan di kelas ini. Kedua pikiran mu yang mengira kalau aku senang jika kau duduk di sini di sebelah ku itu salah besar" Tambah jisoo.
"Bukannya aku merasa tidak senang kau duduk di sini toh kau bukan musuh ku juga dan kursi ini, bisa di tempati siapa saja. Jadi jika kau mengira aku senang itu salah besar karena aku merasa biasa saja" Tambahnya lagi.
"Dan pertanyaan mu tadi, ‘apakah sekarang kita berteman’?. Sebelum aku menjawabnya aku ingin bertanya padamu ‘Apakah kau menganggap ku sebagai teman mu sekarang?" Ujar jisoo. B.I menatapnya aneh B.I dan malah mengacuhkannya.
---
Jisoo dan Saeron bertemu lagi saat jam istirahat tiba. Saeron menceritakan ketidak sukaannya pada Kim Hana yang satu tempat duduk dengannya karena ia selalu menceritakan kehidupan mewahnya pada Saeron.
"Ku rasa kehidupan di kelas ku terlalu berlebihan" Keluh Saeron. Ia terlihat tak bersemangat hari ini.
"Tidak seperti kelas kita dulu" Sambung Saeron. Jisoo sebenarnya ingin mencerita tentang perdebatan antara ia dan B.I tapi ia takut jika Saeron akan memarahinya lagi seperti dulu.
-Flash Back-
Krystal mendatangi Jisoo ke kelasnya. Saeron dan Jisoo yang melihat kedatangan Krystal dan Yerin sontak binggung dan memilih membelalakan matanya.
"Kau" Kata krystal pada jisoo. Jisoo yang menyadari jika orang yang di maksud mereka adalah dirinya langsung berdiri.
"Ada yang bisa saya bantu?" Tanya saeron dengan sopan tapi Krystal dan Yerin langsung tertawa geli.
"Jangan sok akrab deh kami bahkan tak mengenali mu" Tutur Yerin meremehkan Jisoo.
"Aku tidak bersikap akrab kok dan aku juga tidak mengenal kalian" Balas Jisoo santai. Wajahnya datar dan nada bicara yang santai. Saeron yang mendengar perkataan Jisoo langsung berdiri.
"Are you kidding me?" Tanya yerin tak percaya dengan apa yang dilontarkan Jisoo.
"Ya! Kang Saeron apa kau belum bilang padanya?" Pekik Krystal, ia mulai kesal.
"Jika tak ada seorangpun boleh mendekati B.I selain aku?"Sambung Krystal dengan menekan nama B.I, ia menyunggingkan senyum licik ke arah Jisoo.
"Apa kau pacar B.I?" Kini jisoo yang balik tanya. Saeron yang di belakang jisoo sangat khwatir jika mereka akan berakhir dengan perkelahian.
"Kau ingin tau?" Tanya krystal.
"Tidak juga, kalau itu bohong” Krystal ingin sekali membuat perhitungan dengan wanita di depannya itu, tapi sayang saeron dengan cepat menarik Jisoo pergi.
"Kau ini kenapa!?" Binggung jisoo saat sampai di taman belakang sekolah.
"Kau tidak boleh membuat keributan dengan orang itu" Ujar saeron. "
“Dia duluan"
"Orang tuanya memberikan donasi terbesar di sekolah ini" Kata saeron yang tidak di mengerti jisoo.
"Lalu kenapa”
"Tidak peduli siapa yang melakukannya duluan karena mereka tetap akan memihak pada anak pemberi donasi bukan kau”  Jisoo mulai mengerti apa maksud dari omongan saeron.
"Bukannya itu tidak adil" Balas jisoo.
"Ya itu tidak adil tapi jika kau tetap bersikeras, kau di keluarkan"
"Aku tidak masalah jika aku di keluarkan".
"Tapi itu masalah buat ku" Balas saeron.
"Bagimu keluar dari sekolah ini dan pindah ke sekolah lain sangat mudah karena keluarga mu kaya. Jika pada akhirnya kau pindah lalu disini aku harus berteman dengan siapa? Ke kantin dengan siapa dan menghabiskan jam istirahat dengan siapa?" Tanya saeron. Bagi Saeron, Jisoo merupakan sahabat yang sangat mengerti dirinya, ia terlanjur nyaman berasa dekat dengan Jisoo. jisoo pun tersentuh.
"Semua orang di sekolah ini selalu memamerkan barang branded mereka tapi kau tidak" Saeron menatap jisoo penuh arti.
"Ku mohon jangan mencari hal dengan krystal dengan begitu aku tidak akan sendirian lagi" Tutur saeron memegang kedua tangan Jisoo. Jisoo mengerti maksud Saeron yang menyuruhnya lebih tepatnya memintanya untuk menjauhi B.I sehingga ia aman dari wanita bernama krystal. Dan mulai dari situlah jisoo tak pernah bertemu lagi dengan b.i dan tidak lagi berurusan dengan krystal meskipun ia ingin sekali bertemu dengan b.i tapi demi ketulusan saeron ia mau melakukannya.
-Flash Back end-
Saeron memandangi Jisoo heran karena Jisoo sama sekali tak mengubrisnya dari tadi. Jisoo hanya sibuk dengan kegiatannya sendiri.
"Jisoo-ya?" Panggilan Saeron berhasil membuat Jisoo keluar dari dunianya. Jisoo menatap Saeron binggung.
"Kau kenapa?" Tanya saeron. Jisoo tiba-tiba ingat bahwa dari tadi ia tidak mengubris pembicaraan Saeron.
"Jisoo-ya!!" Saeron mulai khwatir pada sahabatnya.
"Ti- tidak" Jisoo hanya tersenyum polos.
"Aku hanya lapar" Sambung jisoo tertawa sambil menepuk kecil perutnya yang sama sekali tidak lapar.
"Maaf sudah berbohong Saeron-ah"Jisoo bergumam dalam hati.
"Bukannya tadi...." Jisoo langsung memontong pembicaraan Saeron dengan tingkah bodohnya.
"Tiba-tiba aku lapar lagi. Mau menemaniku?" Tanya jisoo menggunakan jurus andalannya aegyo.
"Aku teraktir" Sambung Jisoo dan berhasil membuat Saeron mengiyakan ajakannya .
"Kajja" Ucap Saeron bersemangat
---
Sepulang sekolah Jisoo tak berniat untuk melakukan kegiatan sehari-harinya, ia mengurung diri seharian di kamarnya. Jessica yang dari tadi belum melihat adiknya berniat untuk menghampiri adiknya di kamar berharap hal yang buruk tidak terjadi.
"Jisoo-ya"Jessica memanggil adiknya berulang-ulang sampai ia berasa di kamar Jisoo.
"Unnie" Balas Jisoo ketika melihat kakaknya berdada di mulut pintu kamarnya.
"Unnie kenapa ke sini?”
"Lalu kenapa seharian kau tidak keluar dari kamar mu?” Jessica bertanya balik.
"Apa ada masalah di sekolah?"
"Tidak" Jawab Jisoo berbohong. Jessica percaya pada adiknya itu hingga tak berniat untuk bertanya panjang lebar. Namun Jisoo tetap menghabiskan sisa waktunya di dalam ruangan pribadinya
Di tempat lain B.Imasih teringat perkataan jisoo di kelas dan itu membuatnya sangat kesal.
-Flash Back-
"Bukannya aku merasa tidak senang kau duduk di sini toh kau bukan musuh ku juga dan kursi ini, bisa di tempati siapa saja. Jadi jika kau mengira aku senang itu salah besar karena aku merasa biasa saja"
"Dan pertanyaan mu tadi, apakah kita sudah berteman sekarang?. Sebelum itu aku ingin bertanya pada mu Apakah kau menganggap akui teman mu sekarang?" Kata jisoo.
-Flash Back end -
"Aku menganggap kau adalah musuh ku sekarang bukan teman!!" Seru B.I kesal. Saking kesalnya B/.I melampiaskan qmqrahnya itu pada bantal guling kesayangannya.
-Jisoo Pov-
Ku lihat B.I tiba duluan di kelap.
"Tidak biasanya" Kata ku tapi dia tidak mengubris ku sama sekali.
"Baiklah" Sambung ku lagi, merasa sedikit kecewa, tapi tak apa. Aku mengambil beberapa buku dalam tas dan sesekali melirik B.I
"Wae?" Tanya B.I tiba-tiba tanpa melihat ku. Aku langsung melihatnya dengan tatapan kebinggungan.
"Kau" Kata B.I kini melihat ku kemudian ia mengyentil jidat ku dengan sembarangan.
"Kenapa kau melihat ku?" tanyanya. Sontak pipi memanas mungkin juga sudah memerah karena ia menyadari kalau aku sesekali meliriknya.
"Aku hanya penasaran" Balas ku.
"Penasaran?" Tanyanya heran.
"Eoh aku penasaran dengan apa yang kau lakukan" Jelasku. Jujur saja aku juga tak tahu apa yang dari tadi ku katakan. Dia hanya memandangiku heran.
"Aku binggung kenapa kau datang sepagi ini hanya untuk berdiam diri" Kata ku.
"Apa kau mulai mengkhwatirkan aku?" Tanyanya yang berhasil membuat aku tertawa geli dalam hati. Pria ini lucu juga.
"Tidak juga tapi melihat kau yang terlalu percaya diri, sepertinya aku harus mengkhwatirkan mu" Senyumku yang mendapat tatapan aneh dari B.I
---
Hari ini junho seongsaenim selaku guru sejarah korea memberikan kami tugas. Jujur saja aku sangat membenci yang namanya tugas, apalagi tentang sejarah korea, ayolah sekarang kira sudah hidup di zaman modern.
"Kalian harus mengumpulkan tugas yang saya berikan ini minggu depan " Kata Kim sem yang mendapatkan tatapan tidak suka dari para siswa.
Junho sem juga menambahkan jika ini tugas kelompok dan setiap kelompok terdiri dari 2 orang lalu Junho sem meninggalkan ruang kelas begitu saja.
Siapa yang tahu aku dan B.I satu kelompok karena tidak ada yang ingin menjadi partner ku.
"Kau harus berterima kasih padaku" Ujar B.I. Saat ini kami sedang berada di perpustakaan, kami bicara berbisik agar tak mengganggu pembaca lain/
"Untuk apa aku harus melakukan itu?" Balas ku pelan.
"Ya!! jika aku tidak menolak ajakan mereka lalu kau kelompok dengan siapa?" Kali ini B.I berbicara dengan sedikit menekan.
”Bukankah tadi Hana mengajak ku" Kata ku mengingat kejadian tadi.
-Flash Back-
Setelah sem pergi tiba-tiba hana membalikkan badannya dan bertanya apakah aku ingin berkelompok dengan nya. Aku ingin mengiyakan ajakannya tapi B.I datang seenaknya dan langsung menolak tawaran Hana.
"Mian Hana-ssi tapi Jisoo sudah bersama ku" Katanya tersenyum konyol.
-Flash Backend-
"Dan kau-" Pekikku terpotong karena ucapan tiba-tiba B.I.
"Sudah lupakan itu anggaplah tadi aku tidak menyuruhmu untuk berterima kasih" Katanya yang terlihat lain.
Tugas yang di berikan seonsaengnim terlalu susah hingga membuat kami berpikir terlalu keras saat membuatnya.
"Aish kenapa harus ada pelajaran sejarah sih!?" Tanya B.I yang tampak kesal, ia mengusap kasar rambutnya berkali-kali berharap otaknya dapat menenukan cara menyelesaikan tugas ini.
"Kau terlalu banyak mengeluh" Balas ku enteng.
"Huh??" B.i melihat ku penuh tanya.
"Kau tidak bisa lihat!? Kita berdua sangat kebinggungan mengejarkan tugas ini" Ujar B.I yang kekesalannya sudah memasuki level akhir.
"Kalau kau orang korea kenapa kau malah binggung mengerjakan materi ini?" Tanya ku
"Kau memang orang korea dan aku pun juga tapi apa kita mengenal semua sejarahnya.Tidak. Maka karena itu kenapa mereka membuat korea sebagai mata pelajaran agar kita tau sejarahnya bukan hanya kita tinggal dimana dan hidup di mana." Kata ku panjang lebar dan sedikit terbawa emosi. B.I melihat ku acuh tak acuh karena aku berhasil membuatnya mati kutu.
"Kau itu bagusnya jadi motivator ketimbang jadi siswa" Ujar B.I.
“Karena itu-" belum aku menyelesaikan kalimat ku B.I dengan cepat langsung menarik tanganku, aku tak tahu pasti kemana.
"Mau kemana kita?" Tanya ku binggung saat ia membawaku dengan mobilnya. B.I tak menjawab pertanyaanku.
Dia membawaku ke suatu tempat lebih tepatnya di tebing jurang.
"Apa kau ingin bunuh diri karena aku tadi menceramahi mu?" Tanya bodoh ku.
Ku lihat B.I hanya terdiam sambil terus melihat pantai yang berada di bawah jurang.
"Setelah kejadian itu dia mengikari janjinya sendiri" Kata B.I tiba-tiba. Wajahnya berubah drastis. Apa yang dia bicarakan, aku sangat bingung. Tiba-tiba B.I menatapku. Aku ingin mengeluh padanya untuk apa aku dibawa di pendalaman korea maaf maksud ku sebuah desa dan hanya berhenti di sebuah tebing. Ku pikir ia akan bunuh diri ternyata aku salah, dia membawa ku lagi ke pantai di bawah jurang itu. Bunga mawar. Aku melihat 1 bucket bunga mawar merah yang terbungkus rapi di pantai.
-Author Pov-
Jisoo menghampiri bunga mawar itu. Ia bertanya pada dirinya sendiri.
"Siapa yang meninggalkan bunga secantik ini di sini?" Tanya jisoo.
"Itu aku" Balas seseorang. Ternyata itu B.I.  Jisoo menatap B.I dengan tatapan bertanya-tanya.
"Dia mengingkari janjinya di sini" Ujar B.I parau. Ia menyunggingkan senyum paksa pada wajahnya. Jisoo masih tidak mengerti apa yang di bicarakan makhluk di sebelahnya ini. Dia lalu memgambil kesimpulan sendiri bahwa B.i pernah patah hati karena kekasih yang mengingkari janjinya.
"Mungkin begitu" kata ku dalam hati.
Tiba-tiba longsor kecil datang menghampiri mereka.
"Awas!!!" Teriak B.I menarik jisoo tangan Jisoo menjauh dari tanah-tanah serta bebatuan yang runtuh itu. Sebuah bayangan kemudian terlintas di pikiran jisoo.
-Jisoo Pov-
B.i menarik ku ke pelukannya dan berhasil menjauhkan ku dari longsor itu. Saat B.i menarik ku ketempat yang lebih aman tiba-tiba bayangan hitam dengan teriakkan seorang anak kecil tiba-tiba terlintas di benak ku.
"Eomma!!!"teriak anak kecil itu dan terdengar seperti suara gemuru. Aku binggung kejadian apa barusan. Aku seperti pernah mengalaminya tapi di mana?.
"Gwaenchana?" Tanya b.i berhasil membuat bayangan hitam itu leyap.
"Huh? Ne gwaenchana"ucapku sambil menunjukkan jika aku baik-baik saja.
"Eomma" panggil ku dalam hati.
---
Jessica unnie tampak begitu kaget saat aku menceritakan kejadian tadi dan menanyakan apakah eomma betul meninggal saat aku lahir?.
"Ne" adalah jawaban unnie.
"Ku rasa itu hanya ilusi mu saja apalagi kau bilang itu terjadi saat terjadi longsor" Kata eonnie.
"Tapi kau tak terlukakan?" Sambung unnie.
"Ne" Jawab ku tersenyum berusaha membuat Jessica unnie tak kawatir.
"Istirahatlah kau pasti capek" Kata eonnie lalu beranjak dari tempat ini meninggalkanku.
"Ku rasa itu bukan ilusi" aku menginggat kejadian tadi yang masih sangat jelas di pikiranku. Perasaan yang takut dan sedih yang sangat jelas ku rasakan saat itu masih dapat ku ingat dengan jelas. Pelukan hangat eomma juga tak akan bisa ku hapus dengan gampang dari pikiranku.
"Eomma" Ucapku parau saat memanggilnya.
-Author Pov-
Kejadian kemarin masih membuat Jisoo heran dan ia ingin menanyakan suatu hal yang membuatnya mati penasaran pada B.i.
"Kemarin itu tempat apa?" Tanya jisoo saat mendapatkan waktu yang tepat untuk bertanya. Jisoo menatap mata B.I lekat.
"Wae? Apa kau menyukai tempat itu?" B.I bertanya balik.
"Kau pikir aku akan menyukai tempat dimana aku bisa kapan saja terancam bahaya" Jelasku.
"Hanya saja....aku merasa......aku......" Karena perkataan Jisoo yang terbelit-belit, B.I langsung mengambil alih pembicaraan.
"Kemarin adalah hari di mana kecelakaan besar terjadi dan aku kehilangannya" Kata B.i.
"Kecelakaan?”
"Malam itu kami berdua harus berpisah karena rumah kami yang begitu jauh tapi saat mereka dalam perjalanan pulang longsor besar datang dan mobil mereka jatuh kedalam jurang yang kita kunjungi kemarin. Polisi mengatakan bahwa mereka hanya menemukan satu wanita dewasa sementara dia menghilang" Jelas B.i pada Jisoo.
"Dia yang kau maksud siapa?"Jisoo penasaran.
"Sahabat ku" B.I tersenyum pahit. Jisoo ingin sekali bertanya lebih dalam lagi tapi ia langsung melunturkan niatnya karena ia melihat B.i masih belum dapat mengikhlaskan sahabatnya itu.
Di sisi lain Jessica masih teringat dengan apa yang di ceritakan jisoo kemarin.
"Apakah ini waktu yang tepat untuk memberikan ini" kata jessica sambil memegang sebuah gelang. Ia menautkan kedua alisnya sembari memainkan gelang itu di tangannya.
-Jisoo Pov-
Saeron hari ini ingin bermain kerumah ku karena kebetulan orang tuanya sedang berlibur ke pulau jeju.
"Anyeonghaseyo eonnie" Sapa saeron sopan. Ia membungkukan badan dan tersenyum ramah. Aku langsung mengambil beberapa cemilan dan membawanya ke kamar.
"Ayo..." Ajak ku pada saeron.
"Eonnie kami ke atas dulu"
Aku mengajak Saeron untuk duduk di atas bed besar milikku, Saeron menurut dan langsung membuka pembicraan. Saeron berbicara bahwa Krystal dan Yerin akan balik lagi ke Korea.
"Jinjja?" Sontak mataku terbelalak, pada detik-detik awal aku masih tak percaya dengan perkataan Saeron.
"Benar. Dan dia pasti akan mencari masalah lagi dengan mu karena kau mulai dekat dengan B.i" Jelas saeron.
"Kau pikir aku yang mendekatinya?” Ucapku.
"Ani maksud ku krystal pasti tau kalau kalian sekarang sangat akrab dia pasti akan membuat ulah lagi" sambung saeron sedikit khwatir.
Note: Jisoo waktu itu sudah bilang pada Saeron bahwa Jisoo satu tempat duduk dengan B.i dan jadi satu kelompok dengannya. Saeron yang dulunya ingin Jisoo menjauh dari B.i kini sudah tidak mempersalahkannya lagi karena Krystal dan Yerin harus mengikuti orang tuanya ke amerika karena bisnis
"Dan kau ingin melarangku sekarang?" Tanya ku.
"Tidak. Aku malah tidak mau kau berpisah dengan B.i" Kata Saeron.
"Wae? Bukanya dulu kau melarang ku?" Tanya ku menjailinya.
"Itu dulu" jelasnya.
"Ku lihat B.i menyukai mu" Sambung saeron yang membuat ku tertawa sekaligus senang
-Saeron Pov | Flashback-
Kelas tampak sepi pagi ini dan tak segaja aku melihat Krystal ada di dalam kelas mereka yang tengah meletakan sesuatu di kursi Jisoo. Aku ingin mencegah perbuatannya tapi aku terlalu takut dan jisoo pun tanpa ku sadari sudah berdiri di belakang ku.
"Tumben kau datang sepagi ini?" Tanya binggung Jisoo.
"Ayo!" Tukas Jisoo dan menarik ku masuk. Aku ingin bilang pada jisoo tapi Krystal terlanjur menyadari kedatangan kami.
"Jisoo kemarilah ada yang aku ingin ku tanyakan" Panggil Krystal. Krystal menyuruh Jisoo duduk namun hal yang tak terduga terjadi, krystal masuk ke perangkapnya sendiri.
"B.I" Kaget Krystal. B.I datang menghampiri kami lalu mendorong Jisoo dan menarik Krystal untuk duduk di jebakkannya sendiri.
"Kau duduk di sini dan ayo kita bicara" Kata B.i pada Krystal.
"Dan kalian" Ujar B.i pada ku dan Jisoo
"Bisa kah kalian keluar sebentar?" Tanya B.i dan tanpa berpikir panjang aku langsung menarik jisoo keluar
Saat aku tengah di tugaskan oleh Yang sem menaruh semua bola basket ke tempatnya semula, tak sengaja aku melihat Krystal. Ia sudah diposisi di mana ia akan melemparkan bola yang ia pegang ke arah Jisoo.
"Ji-".Aku ingin memberitahu jisoo bahwa ada bola yang melaju mengarah ke arahnya tapi tiba-tiba B.i datang. Bola itu mengenai badan B.i tanpa Jisoo sadari. Krystal yang terkejut juga kesal akhirnya pergi. Selama aku melihat kejahatan krystal pada Jisoo pasti B.I akan datang.
Makan di kantin bersama Jisoo sudah seperti rutinitas yang wajib kami lakukan. Saat makan aku tak segaja mendapati B.i selalu mencuri pandangan pada kami. Ku pikir hari itu kebetulan tapi hari lewat hari aku selalu mendapati ia selalu melirik jisoo dari kejauh saat di kantin,taman, atau pun saat dia melewati kelas kami. Apakah ia menyukai Jisoo?
-Saeron Flash Back end-
-Jisoo Pov-
Unnie memberikan ku sesuatu.
"Apa ini?" Tanya ku heran.
"Bukalah”. Gelang,sebuah gelang cantik terdapat dalam kotak itu.
"Unnie" Panggil ku.
"Kenapa kau memberikan ini? Ulang tahunkan masih tahun depan" Binggung ku yang tak lepas pandangan dari gelang berbuah gajah itu.
"Apa tidak boleh unnie memberikan hadia pada adik ku yang imut ini" unnie mencubit pipi ku gemas.
"Eonnie" renggek. Sebenarnya aku sangat senang diperlakukan layaknya anak kecil oleh kakak ku sendiri. Ya, ku akui aku ini sedikit manja.
Eonnie sudah pergi tapi aku masih belum melepas pandangan ku pada gelang yang pemberian unnie.
"Gelang yang bagus tapi kenapa aku merasa seperti pernah memilikinya?"
Sebuah bayangan tak jelas datang lagi dan itu berhasil membuat kepalaku sakit. Aku meremas kasar rambut panjangku, menutup mataku rapat-rapat berharap rasa sakit itu segera hilang.
---
Sisa waktu ku dan B.i untuk tugas sejarah korea tinggal 2 hari lagi dan tak menyangka setelah beberapa perdebatan kecil yang kami lalui kami berhasil membuatnya.
"Akhirnya kau bisa juga" Decak kagum ku padanya. Ku kira dia adalah orang paling bodoh di kelas tapi sekarang dia sudah membuktikannya hari ini.
"Kenapa kau tak minum?" Tanya B.i yang menyadari bahwa dari tadi aku sama sekali tak menyetuh jus stowberry di depan ku.
"Ini mengandung mint dan aku tak suka mint" Jelas ku.
"Kenapa kau tak bilang pada ku supaya aku tadi menggantinya?" Ku lihat B.i cemas.
"Gwaenchana lagian kalau aku tau itu mengandung mint aku pasti tak akan memilih jus ini" Senyum ku dan dengan polosnya mengambil jus yang menjadi topik masalah kami.
"Hanya karena mangandung mint bukan berarti aku akan mati kan" senyum ku yang di balas senyuman darinya.
-Author Pov-
Jisoo dan B.i keluar dari kelas mereka tanpa ekspresi apapun. Apa yang terjadi? Mereka saling memandang dengan perasaan bahagia dan saling bertepuk tangan.
"Kita berhasil!" Jisoo tertawa bangga. Mereka berdua mendapatkan nilai A dari Junho sem. Tanpa tahu kalau Jisoo menyuruh B.i merayakan keberhasilan mereka dan B.i mengiyakannya.
"Gomawo" kata jisoo senang. B.i lalu melepaskan kalung yang ia kenakan dan memberikan langsung pada jisoo. Jisoo menatap B.i penuh dengan tanda tanya.
"Ini hadiah untuk mu" Kata B.i. Jisoo terus menolaknya tapi karena kegigihan B.i, Jisoo pun akhirnya menerima pemberiannya itu.
Ada yang ganjil pada kalung itu, pikir jisoo.
"Kenapa buah kalung itu sama dengan gelang ku?" Jisoo mengambil gelangnya yang belum dia pakai di laci meja. Dia terus memperhatikan dua buah barang itu dengan serius sampai membuat kepalanya sakit.
"Aku mengenal kalian" Kata Jisoo pada gelang dan kalung itu.
Seorang anak kecil datang berlari-lari dengan membawa kotak merah muda di tangan mungilnya.
"Hanbin-ah" Teriak perempuan kecil itu masih berlari.
"Ini" Ujar wanita kecil itu lagi saat ia sudah sampai.
"Kalung?" Balas anak laki-laki itu binggung.
"Eoh. Eomma ku memberikan ini katanya ini kiriman dari appa ku" Sambung anak kecil itu bersemangat.
"Lalu kenapa kau memberikannya padaku? Bukannya ini pemberian appa mu untuk mu ?" Tanya anak kecil itu melihat wanita kecil itu penuh dengan tanda tanya.
"Aku tak suka kalung yang ukurannya panjang" Jelas wanita kecil itu.
"Jika kau tak suka kalung itu, bisakah kau menyimpannya untuk ku sampai kalung itu agak sedikit pendek?" Tanya wanita kecil itu memohon.
"Baiklah aku akan menjaganya" Kata anak lelaki kecil itu sambil tersenyum. Jisoo langsung terbangun dari tidurnya setelah mendapatkan mimpi itu. Jisoo mengambil gelang dan kalung yang sama dengan mimpinya dari balik laci lemari belajar.
-B.I Pov-
Aku datang ke tempat yang membuat hilangnya jisoo sahabat ku malam ini.
"Jisoo-ya, maaf" Kata ku.
"Aku hari ini telah memberikan kalung mu pada seseorang, aku memberikannya agar kau tahu siapa orang yang ku sukai sekarang" Kata ku tersenyum.
"Apa kau marah jisoo-ya?" Tanya ku berteriak tapi malah suara ombak yang membalas pertanyaan ku.
"Aku anggap suara ombak itu adalah jawaban mu bahwa kau tak marah" Tegas ku senang malam itu.
-Authot Pov-
Jessica sangat kaget dengan apa yang di ceritakan adiknya barusan. Jessica sangat senang bahwa jisoo telah ingat masa lalunya tapi disisi lain ia binggubg harus bagaimana menjelaskannya pada jisoo.
-Flasback-
Jessica menemui King of angel dan menanyakan jika suatu hari ingatan jisoo kembali pada apa yang harus dia perbuat?.
"Jika ia menginggat masa lalunya katakan lah bahwa kau menemukannya di sebuah jurang dan dari situ kau mengadopsinya" Kata Raja.
"Orang-orang berfikir ia sudah tewas melainkan ia hanya hilang dan hanya terombang ambing di laut karena itu aku membawanta ke tempatku" Kata Raja lagi.
-FlashBack end -
-Jisoo Pov-
Ku lihat unnie sangat kaget saat aku meminta penjelasan siapa aku sebenarnya.
"Mian" kata unnie sedih. Wae?,batinku binggung.
"Sebenarnya unnie bukan unnie kandungmu". Aku cukup terkejut mendengar perkataan Jessica unnie, aku tak tahu harus bertindak seperti apa.
"Eonnie menemukan mu saat kau di jurang di tepi pantai, unnie tak tega melihat mu saat itu dan unnie langsung berniat menjaga mu" Jelas Jessica unnie. Aku sedih atas semuanya. Kenyataan di mana bahwa jessica eonnie bukan eonnie kandungku, B.i yang ternyata hanbin, dan sebagainya. Aku ikut menangis saat aku melihat jessica unnie meneteskan airmatanya.
"Unnie" Panggilku lembut sambil memeluknya sangat erat.
"Gomawoyo unnie" Kata ku dalam hati.
Beberapa hari ini aku sangat ingin bersama B.i dari pada saeron karena aku tahu sekarang B.i itu siapa.
"Gwaencha?" Tanya B.i. Aku tau kenapa dia bertanya seperti itu karena dari tadi aku selalu tersenyum-senyum sendiri.
"Ani, gwaenchana" Balas ku masih tersenyum.
"Aku mulai takut" Canda B.i.
"Kau tak memakai kalung yang aku berikan?" Tanya B.i. Aku langsung melihat kearahnya dan mengiyakan pertanyaannya barusan.
"Wae?" Tanya dia lagi." Itu kan kalung ku bukan kalung mu" Jelas ku berhasil membuat dia melihat ku heran. "Aku ingin kau tau sendiri siapa aku sebenarnya" kataku dalam hari sambil melihatnya dalam.
Saat aku berjalan di koridor sekolah aku dan B.i tak sengaja melihat krystal.
"Wow itu bukannya Krystal?" Tanya B.i kurang yakin apa yang dia lihat tadi.
"Aku juga lihat" Balas ku lalu melihat B.i.
“Kau tidak akan menjauhi ku lagikan?" B.i melihat ku sambil menunggu jawaban dariku.
"Kau tahu dari mana kalo aku menjauh dari mu?" Tanyaku balik.
"Itu bisa terbaca dengan mudah dari gerak gerikmu" Jelasnya. Pintar juga dia,kata batinku.
"Sekarang sudah tidak karena aku yang tahu kamu duluan dari pada dia" Jelas ku langsung pergi karena aku tau dia pasti binggung dengan apa yang aku katakan tadi.
Saeron memberitahu ku bahwa Krystal sudah ada di sekolah dan akupun bilang bahwa tadi aku sudah melihatnya tadi di koridor sekolah.
"Aku takut dia akan melabrakmu" Khawatir Saeron.
"Aku tak akan membuat dia berhasil melabrak ku" Balasku. Karena aku yang memiliki dia, Hanbin duluan, sambungku lagi dalan hati.
-Author Pov-
Krystal yang mengetahui bahwa Jisoo dan B.i semakin akrab langsung mencari Jisoo dengan perasaan campur aduk. Ia sudah cukup lama ingin bertemu jisoo saat salah satu temannya melaporkan berita itu.
"Ya!!! JISOO-ya" Pangil kesal Krystal. Jisoo berhenti saat seseorang memanggilnya lalu ia melihat Krystal saat itu.
Kau ternyata tidak bisa di ajak kompromi secara baik-baik yah?" Jelas krystal. Jisoo hanya melihat Krystal datar.
"Kau pikir aku disana tidak tau apa-apa tentang apa yang kau lakukan! Kenapa kau mendekati B.i lagi?" Sambung krystal berteriak tepat di muka jisoo. Para wanita itu tidak tau jika 2 orang pria tengah melihat mereka dari kejauhan.
"Kau betul-betul ingin tau?" Tanya Jisoo balik. Krystal cukup terpanjing amarahnya karena balasan jisoo tadi.
"Karena aku mengetahuinya duluan dari pada kau" Jawab jisoo.
"Huh?" Krystal terkejut mendengarnya lalu dia tertawa sinis.
"Kau pikir aku orang bodoh yang percaya dengan kata-katamu" Tegas Krystal dengan menatap Jisoo sinis.
"Kau bilang padaku bahwa B.i adalah milik mu" Kata jisoo Krystal tersenyum sambil membenarkan perkataan Jisoo tapi itu tak berlangsung lama.
"Tapi apakah kau tau siapa nama B.i sebenarnya?"
"Bukankah b.i adalah milik mu?" Tanya jisoo yang berhasil membuat Krystal mematung.
"Kau bahkan tak tau nama B.i yang sebenarnya lalu mengapa kau menganggap B.i adalah milik mu seorang" Kata jisoo agak sedik menusuk hati Krystal.
"Kau yeoja pabo" Senyum kemengan Jisoo terlihat sekali saat dia meninggalkan Krystal.
Jinhwan dan bobby memberitahukan pada B.i tentang perkelahian antara Jisoo dan Krystal.
"Aku tak pernah melihat Krystal sampe diam mematung begitu" Gumam Bobby meminum jus apel yang tadi ia pesan.
"Hey B.i apa kau menyembunyikan sesuatu pada kami?" Tanya Jinhwan.
"Huh?" B.i heran.
"Selain B.i apa nama lain mu?" Tanya Jinhwan lagi.
"Apa yang kalian bicarakan?" B.i masih binggung.
“Jisoo tadi mengatakan pada Krystal tentang nama lain mu" Kata jinhwan yang di iyakan oleh Bobby yang masih menikmati jus apelnya.
"Apa nama lain mu?" Tanya bobby setelah ia meminum habis jusnya.
B.I memutuskan untuk mencari jisoo tapi tak kunjung ia temukan. Saeron bahkan tak tau jisoo tengah berada di mana sekarang. B.I mencari jisoo ke atap sekolah,ia berharap wanita itu ada disana.
-Jisoo Pov-
Aku menghabiskan waktu istirahat yang ku punya di atas sekolah. Alasannya karena ini adalah tempat yang bisa membuat ku tenang. Aku merasakan kehadiran seseorang dan ternyata itu B.i. Aku sangat senang karena dia ada disini tapi aku binggung kenapa ia hanya diam saja.
Aku mencari B.i kemana-mana tapi sampai sekarang ia belum di temukan. Aku sudah menanyakan pada Jinhwan dan Bobby di mana B.i bahkan mereka sendiri pun tak tahu keberadaan sahabatnya itu.
"Apa kau marah telah mengetahui kenyataannya"
"Hanbin" kata ku kembali ke atas atap dengan perasaan sedih. Panas ku rasakan mulai mengelilingi bola mataku.
-B.I Pov | Flashback-
"Apa ada yang salah?" Tanya jisoo melihat ku heran.
"Kau orang pertama yang berhasil Krystal menjadi mati kutu" Kata ku sedikit memuji.
"Kau melihatnya?" Dia melihatku kaget.
"Aku tidak tapi Bobby dan Jinhwan ya" Jelas ku. Lalu aku melihat kedua matanya sangat dalam. Aku memegang tangannya tapi aku melihat ia memakai gelang yang sudah tak asing bagiku.
"ini apa?" Tanyaku sambil sedikit menyentuh gelang itu.
"Apa kau.....apa kau.... ji......ji...." Kata ku terbata-bata.
"Apa kau jisoo? Jisoo sahabat kecilku?" Emosi ku sedikit memuncak. Aku sedikit menekan nada bicaraku karena perasaanku yang mulai tak stabil.
"Mian hanbin-ah" Balasnya. Mendengar nama asliku di ucapnya itu menjawab segalanya bahwa ia adalah Jisoo yang ku cari selama ini.
"Kenapa kau tidak memberitahu ku dari awal?" Aku agak sedikit berteriak. Nafasku saat ini berhembus tak wajar. Perasaan yang tercampur menjadi satu antara senang, kecewa, marah, merasa bersalah membuat ku bingung apa yang seharusnya ku katakan.
"Apa kau sedang mempermainkan aku?"
"Ini tak lucu Kim Jisoo" Kataku masih shock dengan apa yang terjadi.
"Hanbin-ah" Lirih jisoo sedih.
"Kau pikir aku ini siapa?"
"Kenapa kau menutupi ini semua?"
"Apakah kau pikir aku ini bodoh?
"Apakah aku tak berarti bagimu?
 "Aku sangat kecewa jisoo". Lalu aku memutuskan untuk pergi tanpa memberikannya penjelasan.
-Flash Back end-
Perasaan ku saat mengetahui bahwa jisoo masih hidup sangat senang tapi di sisi lain aku merasa sangat kecewa.
"Kau tak suka mint,kau mengetahui kalung itu dan nama ku" Kata ku.
"Kenapa aku begitu bodoh dan tak menyadari bahwa itu kamu"
"Kim Jisoo"Sambungku masih begitu tak percaya.
-Author Pov-
Jisoo menyadari kebodohannya dan hatinya kini terasa sakit. Jessica khawatir dan merasa ada yang salah dengan adiknya lalu membujuk jisoo untuk mau menceritakannya.
"Eonnie hati ku sakit" Tangis Jisoo. Jessica pun menenangkan jisoo tapi dia takut jika akhirnya mereka berdua akan menjadi angel lagi.
Jisoo beberapa hari ini tak melihat sosok yang telah ia bohongi di sekolah bahkan teman-temannya sudah mencemaskannya. Tak lama sebuah pesan masuk dan ternyata itu dari jessica sang eonnie bahwa ia tak bisa pulang karena ada urusan pekerjaan mendadak. Lalu jisoo memutuskan untuk ketempat yang pernah B.i bawa sebelumnya.
-Jisoo Pov-
Sebuah gemuru ombak dan angin yang saling berhembus menemani ku saat ini. Aku telah menginggat semuanya tapi kenapa semuanya jadi seperti ini? Ada yang tersakiti dan ada yang di kecewakan, batinku.
"Aku bisa masuk angin jika masih berdiri disini" Aku berucap pada ombak seperti orang bodoh. Aku sampai tidak sadar jika aku sudah seharian di tempat ini. Aku pun beranjak untuk pulang tapi ternyata ada sosok yang tak asing lagi berdiri di belakang ku. "B.I".
-Author Pov-
Jisoo kaget karena malam sudah tiba. Ia lalu beranjak untuk pulang dan b.i tengah berdiri di belakangnya.
-B.I Pov | Flashback-
Siang ini aku berencana ke tempat biasa tapi aku melihat seseorang tengah berdiri entah sedang apa dia. Aku ingin menghampirinya tapi hati ku berkata jangan. Jisoo sudah berdiri selama 8 jam disana.
"Apa ia tak sadar jika sekarang sudah malam?" Tanyaku.
-Flash back end -
"B.I!" Kata jisoo. B.I menghampiri jisoo dengan melepaskan jaketnya dan memakaikan jaketnya itu pada Jisoo
"Maaf karena telah menutupi semuanya tapi aku juga tak tau harus memberitahukan mu dari mana"Air mata Jisoo mengalir dengan sendirinya.
"Pertama aku kaget mengetahuinya tapi aku tak bermaksud untuk membohongimu. Aku ingin kau mengetahuinya dengan sendirinya sama seperti aku. Tapi aku tak mengira jika ini semua tak seperti yang aku bayangkan"
"Maafkan aku" Sesal jisoo.
“Aku juga minta maaf" B.i menatap Jisoo dalam.
"Aku terlalu egois" sambung b.i.
"B.I" Panggil Jisoo menatap dalam B.i.
"Aku sebenarnya B.i atau Hanbin" Canda B.i merubah suasana. B.I memegang kedua tangan Jisoo dan menatap Jisoo serius.
"Aku tak ingin kehilangan mu lagi jisoo-ya" Ungkap B.i.
"Aku ingin menjadi seorang yang spesial untuk mu, kau mau?" B.i menyatakan cinta dan jisoo sangat kaget mendengarnya.
"Hanbin-ah" Panggil Jisoo menatap tak percaya.
"Aku juga tak ingin kehilangan kau lagi" kata jisoo mencium hanbin.
(Ciuman menurut versi kalian.XD)
"Bisakah aku memanggilmu dengan B.i saja?" Tanya Jisoo saat sudah melepaskan ciuman mereka.
"Wae?" Tanya balik B.i
"Aku seperti di lahirkan kembali ke dunia ini dan aku dipertemukan oleh seorang namja bernama B.i bukan Hanbin." Jelas Jisoo yang dibalas senyuman dari B.i.
"Jadi aku ingin memanggilmu B.i dari pada hanbin araseo" Jisoo mengedipkan satu matanya. "Ne araseo" balas B.i mengiyakan penjelasan Jisoo. Mereka saling berpelukan dan menghabiskan waktu mereka di tempat itu sambil mengingat masa kecil mereka.


-The End-

Label: ,


Posting Komentar


PASTFUTURE
Hey
[Hi guys,now you are in kpop area. I'm just an ordinary kpop fan who addicted to kpop XD I hope you enjoy being here and dont forget to leave your footprint at my cbox]

Walkie Talkie



My Status
Online 24/7 but I'm not a robot =D
My Story

D' Credits
Basecode : Inspirit's Baby
Template : Alia Eyra