v a n i a ~
FF BTS - Bangtan Boys / The Seventh Case / Part 1
Minggu, 20 Desember 2015 • 16.38 • 0 comments



The seventh Case (The 7th case)





Author      : Vanillatae
Rate         : PG 15
Cast          : BTS member
Main Cast  :Park Jimin
Genre        : Mistery, Penyelidikan, Friendship


“Biasanya angka 7 di penuh dengan keberuntungan, tapi tidak bagi kami ....!”
“...orang terdekat kami yang tanggal lahirnya terdapat angka 7 mati secara misterius!!”
“Apa aku juga akan bernasib sama seperti mereka? Karena aku lahir tepat pada tanggal 7”




******* The Seventh Case (The 7th case) *******



Namsan tower | Pukul 20:45
Suasana malam membawa kehangatan bagi para insan yang memilih menghabiskan waktu dengan kekasihnya bahkan bulanpun setuju, pancaran sinar benda raksasa itu sangat terang dan indah sehingga berhasil membuat puluhan pasangan yang ada pada puncak Namsan tower menjadi nyaman dan hangat. Cuaca pun sangat mengerti akan hati para pasangan-pasangan itu, tak ada angin, suhu hanya diam di 15 derajat celcius.
Semua pasangan yang datang sangat beruntung, para wanita diperlakukan layaknya seorang ratu oleh para pria begitu pula sebaliknya ada yang sesekali mengusap sudut bibir pasangannya karena es krim rasa vanilla yang mereka makan, ada pula yang mengabadikan moment dengan mengambil beberapa gambar lucu dan sebagai tanda perpisahan dengan namsan tower sudah menjadi hal wajib bagi semua pasangan untuk menulis nama masing-masing di gembok beraneka warna dan menguncinya di tempat yang telah disediakan. “Kang JungWoo Loves Han JaeHee semoga cinta kita abadi selamanya” begitulah kata-kata romantis yang tertulis di gembok berwarna ungu muda yang siap dikunci oleh salah satu pasangan yang tengah memperingati hari ke-100 mereka memadu kasih.
Namun sepertinya tidak semua pasangan yang beruntung malam ini, pasangan yang satu ini terlihat berbeda dengan pasangan-pasangan lain, mereka tidak saling menyuapi es krim, mengambil beberapa gambar, apalagi mengunci gembok bersama. Mereka berdua terlihat sedang beradu mulut dengan mata sang wanita yang sedikit berair.
“Kau tidak mencintaiku lagi!” Wanita mungil itu berteriak histeris, sepertinya emosinya sudah memuncak. Bebepara pasangan sempat menoleh ke sumber suara tersebut dan memutuskan untuk menjauh.
“Heejoo-ya... itu tidak benar! aku masih mencintaimu, aku berani sumpah!” Suara lucu pria itu terdengar bergetar. Tangan kanannya ia gerakan mencoba menghapus air mata yang berhasil menetes, namun dengan cepat wanita itu menangkis tangan kekar pacarnya itu.
“Bohong! Kau selalu mengacuhkanku... kau lebih mencintai buku-buku detektif bodohmu itu!” Wanita berambut sebahu itu meluapkan segala emosinya, kini air asin yang menggenangi bola matanya kembali meluap, mengalir di kedua pipi merahnya.
“B-Bodoh?!” Pria itu mengerutkan dahinya.
“Benar!”Wanita pirang itu menatap pria di depannya dengan kesal, nafasnya tak teratur dan sesekali tersendat. Bekas air mata di pipinya telah membentuk dua garis tak beraturan.
“HeeJoo-ya itu bukan hal yang bisa kau katakan ‘bodoh’ seenaknya, itu keinginanku selama ini” Pria itu berusaha menghaluskan suaranya meskipun masih ada getaran yang lolos, cairan bening mulai tampak di kelopak matanya tapi ia berusaha untuk kuat.
“Sama saja tidak memiliki pacar jika pacaran denganmu, brengsek!” Pria itu terpaku, hatinya perih bahkan tercabik-cabik mendengar ucapan demi ucapan dari wanita yang telah ia pacari selama dua tahun itu, ingin rasanya ia menjelaskannya tapi ia sadar bahwa ia juga salah. Iapun lebih memilih untuk diam.
“Disaat aku kesepian, kau di mana saja?! Disaat aku membutuhkanmu kau selalu tak ada!” Wanita itu menggigit kuat bibir bawahnya menahan suara tangisan yang ingin keluar. Bilur airmata kembali mengalir ketika wanita itu mengingat kembali masa-masa menyakitkan yang pernah ia alami.
“Sana! Pacaran saja dengan cita-citamu itu!!” Tambah wanita itu dengan menaikan nadanya pada akhir kalimat.
“Hee..Heejoo-ya kau biasanya tidak seperti ini”
“Kita putus”

DEG..............
Waktupun seakan berhenti.
DEG..............
Terasa seperti ribuan silet menyayat pelan hati pria itu.
DEG..............
“Apa ini nyata?” batin pria itu.
DEG..............
“Ini nyata” gumamnya tanpa suara.


“Apa kau bilang!?” Pria itu masih terpaku dan sibuk mencerna kalimat terakhir yang keluar dari bibir mungil wanita itu. Bunga daisy putih dengan lingkaran pita kuning kecil masih setia ia sembunyikan di belakang tubuhnya. Bunga daisy putih yang mekar pada musim panas bulan kedua, Kata-kata itu masih ia simpan rapat-rapat dalam otaknya, pria itu mengeratkan genggamannya pada bunga tersebut hingga plastik bening yang menjadi pembungkus berkerut tak beraturan bahkan ada beberapa tangkai bunga yang patah.
“Kita putus!” Wanita itu mengulang kalimatnya enteng. Merasa sedikit lega, wanita itu pun memilih untuk pergi dari tempat itu, ia berjalan kasar mendorong pria itu dengan bahu mungilnya. Pria itu terdorong beberapa langkah ke belakang, bunga daisy putih itu terlepas dari genggamannya dan jatuh. Bunga putih itu kini tergeletak di tanah dengan beberapa tangkai yang lepas dari pembungkusnya.
“HeeJoo-ya...” Lirihnya, tak ada respon malahan kaki jenjang itu mendarat sempurna pada kelopak bunga itu hingga tak berbentuk lagi.
Padahal setiap hari kau merengek memintaku membelikan bunga daisy.

Halte Bus 21:39 Malam.
“Apa yang telah aku lakukan?!” Pria yang sedang putus cinta itu duduk termenung di sebuah halte. Halte yang tadinya sepi kini dihiasi oleh umpatan-umpatan penyesalannya. Pria itu memilih mondar-mandir, sesekali ia menggigit ibu jarinya.
“Apa aku harus minta maaf?”
“Tidak!! Aku harus merelakannya” Ia memberikan kalimat-kalimat penyemangat untuk dirinya sendiri untuk meyakinkan kalau perbuatannya tadi benar. Akhirnya ia memperolehnya, pria dengan jaket kulit hitam itu memutuskan untuk pulang dan membaca buku-buku miliknya yang tentunya itu semua berkaitan dengan detektif.
“Oh! Busnya datang”
*Trrtttt Trtttt Trrtttt* Tiba-tiba ponsel pria itu bergetar. Ia merogoh iPhonenya yang bercasingkan conan dengan kaca pembesar di saku jaketnya.
Dengan santai ia mengangkat panggilan itu sembari berjalan menuju pintu bus. “Ne Hyung..”
“Jiminie??” Suara dari sebrang telepon membuat langkah pria pemilik nama Jimin itu terhenti. Namanya Jimin bermarga Park dan sangat terobsesi dengan detektif.
“Apa yang terjadi hyung??” Jimin mengerutkan dahinya heran.
“Kau ada di mana hmmm??”
“Aigooo..hyung kau mabuk??” Desisnya pelan.
“Haksaeng! Mau naik atau tidak?” Suara berat pak sopir memotong percakapan kedua remaja itu.
“Tidak jadi, saya minta maaf!” Jimin berbungkuk 90 derajat sebagai tanda permintaan maafnya, ia langsung berlari ke suatu tempat yang biasa ia kunjungi untuk menghilangkan penat bersama teman-temannya.

JJANG RESTORAN 22:01 Malam.
“Heosok hyung!!” Jimin berteriak ketika melihat hyung terdekatnya itu tertidur dengan kepala bersandar di meja bundar berwarna coklat. Kedua pipinya memerah tanda ia telah meminum kurang lebih empat botol soju.
Jimin beberapa kali mengguncang kasar tubuh Heoseok bahkan menepuk-nepuk pipinya agar Heoseok sadar. “Hmmm...” dihentikannya aktifitasnya ketika ada gerakan kecil dari tubuh kurus Heoseok.
“Yang benar saja, hyung kenapa kau seperti ini pasti ada sesuatu kan?!”
Heoseok menarik nafas panjang. Mengambil tatapan kosong.
“Aku tidak tau lagi harus bagaimana...” Sebaris kalimat keluar dari mulut Heoseok. perlahan ia mengambil gelas berisi soju dan meminumnya lagi.
“Apa yang sebenarnya terjadi hyung?”
“Jimin-ah...”
*FLASHBACK ON*
“Pokoknya kamu harus masuk ke sekolah penerbangan itu! Titik.” Sudah setengah jam lebih suara serak lelaki paruh baya terdengar menghiasi setiap sudut rumah Hoseok. Suasana rumah itu tegang akibat perdebatan yang tak kunjung berhenti.
“Tidak Abeoji. Aku tidak mau masuk ke sekolah itu.” Entah sudah berapa kali pria berumur 20 tahun itu mengatakannya.
“Heoseok-ah.. patuhilah peritah ayahmu. Ini demi kebaikanmu juga.” Kini ibunya yang angkat bicara.
Heoseok menatap ibunya yang ada di sampingnya. Perasaannya kacau balau melihat ibunya yang terus-terusan menangisinya. Heoseok mengambil beberapa lembar tissue dan mengusap lembut mata hingga pipi ibunya. Ia menyingkirkan beberapa anak rambut yang menutupi mata ibunya dan menatap lekat manik kecoklatan ibunya.
“Eomma, tolong kali ini percayalah padaku” Heoseok mengusap pipi ibunya dengan penuh kehangatan.
Ibu Heoseok tak dapat berkata apa-apa, ia seperti melihat suatu keyakinan yang sangat kuat terpancar dari mata anak satu-satunya itu.
“Tidak bisa! Apapun yang terjadi kamu harus masuk ke sekolah penerbangan itu” Suara serak kembali terdengar.
“Abeoji! Aku tidak memiliki kemampuan di bidang itu. Bisa-bisa pesawat akan jatuh jika aku yang menjadi pilotnya...” Heoseok memasang muka memelas.
“Untuk itu kau harus belajar! Bukankah semua berawal dari nol?”
“Abeoji kumohon!”
“Tidurlah.. besok kau harus mempersiapkan berkas-berkas untuk masuk di sekolah itu” Ucap ayah Heoseok santai dan meninggalkan ruangan itu.
Otak Heoseok berpikir keras mencari jalan keluar dari permasalah ini. Jika situasinya sudah rumit seperti ini akan sangat sulit baginya untuk mengubah pikiran ayahnya, apalagi Heoseok adalah anak satu-satunya yang artinya semua tugas ayahnya akan menjadi tugasnya di masa depan dengan kata lain Heoseok akan menjadi tulang punggung keluarga. Heoseok mengerti akan maksud ayahnya tapi ini tidak seperti yang ia inginkan.
Dengan berat hati Heoseok melirik ibunya yang hanya menyaksikan perdebatan suami dan anaknya.
“Maafkan aku ibu, kumohon maafkan aku!”
Itulah kalimat terakhir yang keluar dari mulut Heoseok sebelum ia memutuskan untuk pergi dari rumah itu atau yang sekarang ia sebut rumah orangtuanya, itu bukan rumahnya lagi menurut Hoseok.
“Heoseok-ah...”
“Heoseok-ah...!!”
Heoseok dapat mendengar suara ibunya yang berteriak berulang kali memanggil namanya. Setiap teriakan yang keluar membuat hati Heoseok sakit seperti teriris benda tajam. Ia sangat merasa bersalah pada ibunya karena harus berpisah dengan cara seperti ini.
*FLASHBACK OFF*
“Hyung... apa kau sakit?” Jimin menaruh tangannya di dahi dan turun ke pipi Heoseok.
“Tidak, memangnya kenapa?” Jawabnya polos.
“KENAPA KAU LARI DARI RUMAH!?” Jimin berteriak di samping telinga Heoseok menimbulkan suara nyaring yang sangat Heoseok benci. Tangannya terbuka dan segera menutup kedua daun telinganya.
“Sekarang apa yang akan kau lakukan?”
“Apa maksudmu?! Kau pasti sudah tau! Lagipula kalau kau yang ada di posisiku kau akan mengambil jalan ini juga.”
Jimin menghela nafas panjang “Sekolah detektif Han il sudah buka pendaftaran”
“Aku tahu..”
“Terus bagaimana?” Tanya Jimin.
“Dasar bodoh! Kita harus mendaftar.....”
“Bukan itu maksudku hyung!” Jimin menyipitkan matanya dan beberapa kali menggelengkan kepala. Heoseok terlihat seperti seorang gembel yang selalu duduk di depan pertokoan sekarang.
“Terus apa?”
“Kau mau tinggal di mana?!!!” Kembali suara melengking Jimin menerobos telinga tak bersalah Heoseok.
“Ah, So..Soal i..tu..Aku juga bingung” Heoseok menggaruk kasar kepalanya. Ia mengetuk-ngetuk  dagunya untuk mencari sebuah ide.
“Adikku tersayang Jiminie..” Panggil Heoseok sambil tersenyum lebar kearah Jimin. Sepertinya sekarang Heoseok sedang melakukan aegyo . Membuat gelembung di kedua pipinya, dengan mata yang dibuat menyipit sedangkan tangannya ia kepal dan diletakan di kedua sisi pipinya.
Rasanya seperti mau muntah ketika melihat ekspresi Heoseok yang sedeng bertingkah imut. Jimin hanya mengalihkan pandangannya dari pemandangan menjijikan itu.
“Eugh, hentikan kumohon!”
“Jimin-ah ayolah hanya satu malam...” Tangan Heoseok membentuk angka satu.
“Hyung kau tahu sendirikan ayahku seperti apa“
“Tahu!! Aku janji hanya malam ini.”
“Baiklah!”
Pembicaraan sempat terhenti beberapa menit, keduanya terlihat sedang bergulat dengan pemikiran mereka masing-masing. Tangan kurus Heoseok meraih gelas bening yang terdapat alkohol di dalamnya, meminum cairan alkohol itu walaupun timbul rasa pahit dan pekat namun Heoseok menyukai sensasi hangat dan nikmat alkohol itu ketika mengalir di dalam kerongkongan. Sementara Jimin lebih asyik dengan gelas beningnya. Ia memutar-mutar gelas bening itu menggunakan jari-jari lincahnya. Perlahan Jimin meletakan kepalanya di meja yang hampir penuh dengan botol kaca hijau dan beberapa piring kecil yang berisikan kue beras saus merah.
“Hyung.. ..”
“Hmm?”
“Sebenarnya aku... putus dengan HeeJoo”
Seketika aktivitas Heoseok terhenti, ia memusatkan pandangannya pada Jimin.
“Apa katamu?” Heoseok memicingkan matanya.
“Aku bilang, aku putus dengan HeeJoo”
“HeeJoo?  ah! Wanita yang sering kau ceritakan padaku itu?”
“Iya..”
“Ta..tapi bagaimana bisa?” Heoseok mulai tertarik dengan topik cerita Jimin, ia pun terus-terusan bertanya bagaimana asal mula peristiwa itu terjadi, mengguncang kecil tubuh Jimin agar ia mau memberitahu cerita itu dengan detail dan rinci.
“Ia tidak menerimaku apa adanya...”
“Maksudmu?”
“HeeJoo memutuskanku karena aku lebih fokus pada buku-buku detektifku!. HeeJoo bilang itu hanya hal bodoh” Jimin kembali mengingat peristiwa yang terjadi di Namsan tower beberapa jam yang lalu. Perih, rasa yang kini bersarang di hati kecilnya.
“Wanita itu.. kenapa ia tega sekali berkata seperti itu...”
“Aku juga bingung” Jimin hanya menggelengkan kepala.
“lihatlah dirimu, hanya masalah kecil seperti itu kau jadi orang yang kehilangan semangat hidup apalagi masalah besar, bisa-bisa kau bunuh diri!”
“Hyung! Kau tidak mengerti perasaanku..”
“ Aku ini lebih tua satu tahun darimu, aku tahu persis bagaimana perasaanmu saat ini. Sini aku beritahu satu hal, menjadi detektif itu bukanlah hal yang sepele, jika kau ingin menjadi detektif hebat kau harus mengutamakan hal itu, karena kalau tidak kasusmu tidak akan pernah terpecahkan dan selamanya akan menjadi misteri.”
“Aku tahu..”
“Ok. Baiklah! Malam ini ayo kita minum sepuasnya! bibi beri kami dua botol soju dan sepiring kue beras!”
“Ne” Balas seseorang dari dapur

Apgujeong 23:07 Malam
“Aku pulang!!”
Seorang pelajar berpostur tinggi dengan cepat membuka pintu usang rumahnya, derasnya hujan berhasil membuat seluruh seragam sekolahnya basah. Ia sangat senang pasalnya ia baru saja mendapat gaji pertamanya dari kerja part time di sebuah restoran ramen. Ibunya harus bekerja keras demi menghidupinya karena ia tak memiliki ayah lagi namun pria itu sering melarang ibunya karena asma yang diidap ibunya. Tak lupa pria berkulit putih itu membawa sekantong plastik yang berisikan kaki babi yang baru saja dipotong yang ia beli di ujung jalan, selain mie saus kacang hitam, ramen, dan kimbab, kaki babi merupakan salah satu makanan yang paling digemari ibunya.
“Aku pulang!” Pria itu berucap lagi namun kali ini dengan suara yang lebih keras. Biasanya ibunya akan menjawab “eoh kau sudah datang” ketika ia pulang. Tapi kenapa malam ini tidak? Pikiran yang tidak-tidak kini mulai menguasai kepalanya.
“Eomma?” Pria itu masuk ke dalam rumahnya. Rumahnya gelap. Hanya ada beberapa cahaya dari bulan yang lolos dari celah kecil jendelanya. Dengan perasaan gelisah, ia pun menuju sudut rumahnya di mana ada saklar lampu di sana.
“Kenapa eomma tidak menyalahkan lam-” perkataannya terpotong ketika mendengar suara air dengan sangat jelas dan keras yang keluar dari keran kamar mandi. Pria itu mengerutkan keningnya, mencoba mengingat apakah sebelumnya keran kamar mandi pernah ada masalah atau tidak, atau mungkin ada keluarganya yang datang.
TSSSSS!!!
Suara air dari kamar mandi kini mendominasi rumah pria itu, bahkan suara hujanpun tertutupi.
“Eomma? Kau di dalam?” Tetap tak ada balasan dari dalam kamar mandi.
Pria itu sudah hampir sampai di ambang pintu, namun detik itu juga keran air berhenti.
“Eomma?”
Pada detik berikutnya suara air itu kembali terdengar “TSSSSSSSSSS” tapi kali ini lebih keras dan nyaring. Pria itu ketakutan, muncul titik-titik keringat di permukaan pelipisnya. Ia memutar langkahnya untuk pergi ke dapur, mengambil sebuah pisau untuk menjadi pelindungnya jika terjadi sesuatu.
“Siapa di dalam?!” Air kembali berhenti, Ia memanjangkan langkahnya dan mengeratkan pegangannya pada pisau itu, saking kuatnya pisau itu terlihat bergetar.
TSSSS!
Bunyi air kembali terdengar. Kini ia tepat berada di ambang pintu. Pria itu mengatur nafas dan bersiap untuk menendang pintu kamar mandi.
“tiga...dua...” Ia menghitung mundur dengan posisi kaki yang hampir menendang.
“SATU!!!” Bunyi keran air berhenti bersamaan dengan tendangan keras pria itu. Perlahan ia masuk ke dalam kamar mandi. Kakinya tergenang sampai mata kaki akibat air yang terus-terusan keluar. Ia pun memutar keran air tersebut hingga tak ada lagi air yang keluar.
Tepat pada detik selanjutnya...
“AAKKKHHHH!” Terdengar suara teriakan keras dari seorang wanita paruh baya di ruangan lain. Detik itu juga pria itu langsung berlari ke sumber suara itu, jantungnya berpacu dua kali lipat dari sebelumnya, itu suara ibunya.
“JANGAN!! KUMOHON!!” Kini suara tangisan dan jeritan terdengar.
Mata pria itu berkaca-kaca, ia berhasil mencari sumber suara tersebut namun pria itu kurang beruntung ruangan itu terkunci, dengan pisau yang masih di genggamannya ia terus mendobrak pintu kamarnya yang terdapat gantungan kecil bertuliskan Jungkook’s room itu.
“AKHHH KUMOHON HENTIKAN!!!!” Wanita itu kembali berteriak. Suaranya beberapa kali tersendat akibat rasa sakit yang ia rasakan.
“Eomma!! A-Apa yang sebenarnya te-terjadi!!?” Suara pria itu bergetar hebat, matanya merah berair. Pintu yang dari tadi ia dobrak tak kunjung terbuka karena tenaganya yang sedikit-demi sedikit menghilang seiring dengan teriakan ibunya yang sepertinya sangat tersiksa.
“AKKKHHHH!” Teriakan panjangpun terdengar.
Akhirnya pintu berhasil terbuka....
#TANGGG!
Pisau yang dengan sekuat tenaga ia genggam kini terjatuh di lantai keramik putih yang juga menjadi bahan pijakannya. Pria itu tak dapat berkata-kata. Ia mulai menggerakan kakinya, berjalan gontai ke arah tempat tidur di mana ada seorang wanita cantik terbaring kaku dengan darah di sekelilingnya.
“Eo-Eomma” Pria itu merasakan panas di matanya. Air matanya jatuh untuk kesekian kali. Pria itu jatuh ke lantai karena kakinya tak mampu lagi menopang berat badannya, semua badannya terasa lemah, perasaannya campur aduk antara sedih, marah, dan kecewa. Tangannya bergetar tapi ia tetap berusaha menggerakannya. Ia ingin menyentuh pipi ibunya untuk yang terakhir kalinya.
“Eomma bangunlah aku sudah datang. Aku membawakan jjokpal (kaki babi) kesukaanmu” Ucapnya lirih.
“Eomma?” ia menepuk halus pipi ibunya yang masih hangat berharap ada sebuah gerakan kecil yang muncul.
“Maafkan aku hiks hiks!!” Tangisan pria itu pun pecah, emosi yang dari tadi ia pendam kini ia lampiaskan dengan sebuah tangisan. Ia berharap ibunya tak malu melihat penampilan dirinya yang sangat kacau, air mata tak henti-hentinya mengalir membasahi pipinya, rambut yang biasanya ibunya usap kini telah berubah kusut dan basah akibat air hujan yang bercampur dengan keringatnya.
“Maafkan aku karena tidak pulang tepat waktu, kalau saja aku tiba lebih awal pasti hal ini tidak akan terjadi. Hiks Aku minta maaf.” Pria itu bergumam di sela-sela tangisannya dengan tangan yang menggenggam erat tiap jemari ibunya, menciumnya sesekali, ingin menyesap aroma khas seorang ibu yang menjadi candunya setiap saat untuk yang terakhir kalinya.
Ia tak sanggup melihat keadaan ibunya sekarang bekas cekikkan di leher membuat pria bernama  Jungkook itu marah juga bercampur sedih, ia tak tahu lagi harus berbuat apa hujan yang semakin lebat ditambah petir dan kilat yang saling menyambar membuat Jungkook tak punya harapan untuk menemukan pelaku yang membunuh ibunya, juga ia berpikir bahwa ini kasus yang sangat bersih, tidak ada yang berubah dari perabotan dalam kamarnya juga debu dari bingkai jendelanya tidak terdapat jejak, ia takut jika ia melapor ke polisi nantinya akan menjadi kesaksian palsu dan ia yang akan berakhir di penjara.  Dahinya berkerut ketika melihat noda darah di baju ibunya. Matanya tertuju pada telapak tangan ibunya, dari situlah darah segar itu berasal. Dengan pikiran yang campur aduk Jungkook meraih tangan kiri ibunya yang berlumuran darah.
“Tu..tujuh?” Pria berumur 18 tahun itu semakin tidak mengerti.
“Siapa bajingan yang berani berbuat hal keji sepert ini...” Geram Jungkook. Terdapat sayatan-sayatan pisau di telapak tangan ibu Jungkook yang membentuk angka tujuh. Jungkook semakin marah, ingin rasanya ia membunuh orang yang tega membuat ibunya seperti ini, siapapun itu.
“Eomma... Aku sangat menyesal, kenapa hal buruk selalu menimpaku.” Jungkook bergumam sendiri di kamarnya, suasana rumah sepi dan cuaca yang seakan mengerti perasaan pria itu, hujan tak pernah berhenti hari itu.
Dengan mata sayu Jungkook terus menatap jasad ibunya yang terbujur kaku. Ia menajamkan penglihatannya ketika iris tajamnya menangkap beberapa garis-garis kecil yang terbuat dari darah di baju coklat muda ibunya. Sepertinya garisan-garisan itu membentuk sebuah tuliasan seperti pesan kematian.
Jungkook lebih mendekatkan kepalanya, merapikan lipatan-lipatan kecil dari baju itu dan membaca tulisan itu.

Seketika matanya terbelalak...


“Ha... “


“Han...”


“Han il??


TBC

Label: , ,


Posting Komentar


PASTFUTURE
Hey
[Hi guys,now you are in kpop area. I'm just an ordinary kpop fan who addicted to kpop XD I hope you enjoy being here and dont forget to leave your footprint at my cbox]

Walkie Talkie



My Status
Online 24/7 but I'm not a robot =D
My Story

D' Credits
Basecode : Inspirit's Baby
Template : Alia Eyra